Odyssey

Imajinasi, Harapan, Luka, dan Dewasa


Ditulis oleh: Adrian


«"Aku tidak berkabung atas seseorang yang pergi. Aku berkabung atas masa depan yang pernah kubangun bersamanya."


---


«"Karena kami hidup oleh iman, bukan oleh penglihatan."


— 2 Korintus 5:7»


«"Hope is a waking dream."


— Aristotle»


«"The wound is the place where the Light enters you."


— Jalaluddin Rumi»



PRAKATA


Buku ini tidak ditulis untuk menyalahkan siapa pun.


Tidak pula ditulis untuk mencari pembenaran atas luka yang pernah terjadi.


Buku ini adalah catatan perjalanan.


Perjalanan seorang manusia biasa yang pernah percaya bahwa ketulusan selalu menemukan tempatnya.


Perjalanan seseorang yang pernah mengira bahwa cinta cukup untuk mempertahankan dua manusia tetap berjalan ke arah yang sama.


Dan perjalanan seorang pengembara yang akhirnya menyadari bahwa kehidupan tidak selalu tunduk pada harapan.


Sebagian orang akan menemukan kisah cinta di dalam buku ini.


Sebagian lagi akan menemukan kisah kehilangan.


Namun sesungguhnya, buku ini bukan tentang keduanya.


Buku ini adalah kisah tentang pulang.


Pulang kepada diri sendiri.


Karena terkadang manusia harus kehilangan banyak hal sebelum akhirnya menemukan siapa dirinya sebenarnya.


---


PROLOG


Tentang Bintang yang Telah Mati


Dalam astronomi terdapat sebuah fakta yang aneh.


Ketika manusia memandang langit malam, sebagian bintang yang terlihat sebenarnya telah mati sejak lama.


Namun karena cahaya membutuhkan waktu untuk menempuh jarak yang begitu jauh, sinarnya masih sampai ke mata manusia.


Dengan kata lain.


Kita sering melihat sesuatu yang sebenarnya sudah tidak ada.


Ketika pertama kali membaca fakta tersebut, aku menganggapnya sebagai pengetahuan biasa.


Menarik.


Namun tidak lebih dari itu.


Bertahun-tahun kemudian aku memahami bahwa hati manusia bekerja dengan cara yang sama.


Ada orang-orang yang telah pergi.


Ada hubungan yang telah berakhir.


Ada harapan yang telah runtuh.


Tetapi cahaya dari semua itu masih terus datang.


Masih terus terasa.


Masih terus hidup di dalam ingatan.


Mungkin itulah alasan mengapa kehilangan terasa begitu menyakitkan.


Karena yang kita hadapi bukan hanya kenyataan.


Melainkan juga cahaya dari masa lalu yang belum selesai melakukan perjalanannya.


Dan buku ini adalah catatan dari perjalanan itu.


Perjalanan ketika seseorang belajar membedakan antara kenyataan dan harapan.


Antara cinta dan keterikatan.


Antara kehilangan seseorang dan kehilangan kemungkinan.


---


BAB I


Kota yang Dibangun oleh Imajinasi


«"Faith is taking the first step even when you don't see the whole staircase."


— Martin Luther King Jr.»


Setiap manusia hidup di dua dunia.


Dunia pertama adalah dunia yang nyata.


Dunia yang dapat disentuh.


Dunia yang dapat diukur.


Dunia yang dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.


Namun ada dunia kedua.


Dunia yang tidak terlihat.


Dunia yang dibangun oleh harapan.


Dunia yang dihuni oleh kemungkinan.


Dunia yang hanya ada di dalam kepala manusia.


Aku hidup terlalu lama di dunia kedua.


Di sanalah aku membangun masa depan.


Di sanalah aku membangun mimpi.


Di sanalah aku mulai percaya bahwa segala sesuatu akan berjalan sebagaimana yang kuharapkan.


Aku tidak menyadari bahwa imajinasi adalah arsitek yang sangat berbakat.


Ia mampu membangun istana hanya dari sebuah percakapan.


Ia mampu membangun kerajaan hanya dari sebuah perhatian.


Ia mampu membangun masa depan hanya dari sebuah kemungkinan.


Namun seperti semua kerajaan dalam sejarah dunia, kerajaan yang dibangun tanpa fondasi akan runtuh pada waktunya.


Dan aku belum mengetahui bahwa keruntuhan itu sedang menungguku di tikungan jalan berikutnya.


---


BAB II


Ketika Harapan Menjadi Agama


«"Hope is a waking dream."


— Aristotle»


Ada masa ketika aku mempercayai harapan seperti seorang peziarah mempercayai tujuan perjalanannya.


Aku yakin bahwa ketulusan akan dihargai.


Aku yakin bahwa kesetiaan memiliki arti.


Aku yakin bahwa pengorbanan tidak akan sia-sia.


Keyakinan itu tumbuh begitu kuat hingga tanpa kusadari ia berubah menjadi sesuatu yang menyerupai agama.


Aku mulai mengukur masa depan berdasarkan apa yang kuharapkan.


Bukan berdasarkan apa yang benar-benar terjadi.


Padahal sejarah telah berulang kali mengajarkan bahwa manusia sering kali lebih mencintai harapan daripada kenyataan.


Kita jatuh cinta kepada kemungkinan.


Lalu kecewa ketika kemungkinan itu memilih untuk tidak menjadi kenyataan.


Dan mungkin itulah tragedi terbesar manusia.


Bukan karena mereka gagal mendapatkan apa yang diinginkan.


Melainkan karena mereka terlalu lama hidup di dalam dunia yang belum tentu ada.


---


BAB III


Lautan Ekspektasi dan Kapal yang Bocor


«"Expectation is the root of all heartache."


— William Shakespeare»


(Sambungan menuju bab berikutnya...)


---


BAB IV


Musim Kehilangan


«"TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya."


— Mazmur 34:18»


(Sambungan...)


---


BAB V


Cahaya dari Bintang yang Telah Padam


«"We are all made of star-stuff."


— Carl Sagan»


«"Kehilangan tidak selalu berarti seseorang pergi. Kadang kehilangan berarti kenyataan menolak menjadi seperti yang kita harapkan."»


«"Tidak semua orang yang datang ke dalam hidup kita ditakdirkan untuk tinggal. Sebagian datang hanya untuk mengajarkan pelajaran yang tidak bisa diajarkan oleh siapa pun."»


«"Pada akhirnya, kedewasaan bukanlah kemampuan melupakan. Kedewasaan adalah kemampuan menerima bahwa tidak semua hal harus dimiliki agar tetap bermakna."»


BAB VI


Pengadilan di Dalam Kepala


«"The mind is its own place, and in itself can make a heaven of hell, a hell of heaven."


— John Milton»


Tidak ada pengadilan yang lebih kejam daripada pikiran manusia.


Di sana tidak ada hakim yang netral.


Tidak ada saksi yang jujur.


Tidak ada pengacara yang membela dengan adil.


Yang ada hanyalah kenangan, prasangka, harapan, dan rasa sakit yang saling berdebat tanpa akhir.


Pada masa itu aku mulai mengadili segalanya.


Aku mengadili diriku sendiri.


Aku mengadili keadaan.


Aku mengadili masa lalu.


Aku bahkan mengadili orang yang pernah menjadi alasan bahagiaku.


Setiap malam pikiranku membuka kembali berkas-berkas lama.


Percakapan yang pernah terjadi.


Janji yang pernah diucapkan.


Harapan yang pernah dibangun.


Lalu semuanya diputar ulang seperti film yang tidak pernah selesai.


Aku mencari jawaban.


Mencari kesalahan.


Mencari alasan.


Namun semakin lama aku mencari, semakin aku menyadari bahwa tidak semua luka membutuhkan pelaku.


Kadang-kadang luka hanya membutuhkan penerimaan.


Karena hidup tidak selalu memberikan jawaban yang memuaskan.


Dan kedewasaan dimulai ketika seseorang berhenti menjadi hakim atas masa lalunya.


---


BAB VII


Ilmu tentang Luka


«"The wound is the place where the Light enters you."


— Jalaluddin Rumi»


Dalam dunia kedokteran, luka adalah kerusakan pada jaringan.


Dalam psikologi, luka adalah pengalaman yang meninggalkan bekas pada jiwa.


Dalam hidupku, luka adalah guru yang datang tanpa diundang.


Tidak ada manusia yang meminta untuk terluka.


Namun hampir semua manusia belajar sesuatu darinya.


Aku belajar bahwa kesedihan bukan kelemahan.


Kesedihan adalah bukti bahwa sesuatu pernah berarti.


Aku belajar bahwa air mata bukan kegagalan.


Air mata adalah bahasa yang digunakan jiwa ketika kata-kata tidak lagi cukup.


Aku belajar bahwa kehilangan bukan selalu hukuman.


Kadang kehilangan adalah cara kehidupan mengajarkan bahwa tidak semua hal dapat dimiliki.


Dan semakin aku memahami luka, semakin aku mengerti bahwa tujuan penyembuhan bukanlah melupakan.


Melainkan belajar hidup tanpa terus-menerus disakiti oleh kenangan yang sama.


---


BAB VIII


Seni Melepaskan


«"Holding on is believing that there is only a past; letting go is knowing that there is a future."


— Daphne Rose Kingma»


Melepaskan adalah kata yang sederhana.


Namun praktiknya jauh lebih sulit daripada mengucapkannya.


Karena manusia tidak hanya melepaskan seseorang.


Ia juga melepaskan kebiasaan.


Melepaskan harapan.


Melepaskan masa depan yang pernah dibayangkan.


Melepaskan versi dirinya yang pernah hidup di dalam sebuah hubungan.


Pada awalnya aku mengira melepaskan berarti melupakan.


Ternyata tidak.


Melepaskan berarti menerima bahwa sesuatu pernah ada tanpa harus memaksanya tetap ada.


Seperti daun yang jatuh pada musim gugur.


Seperti ombak yang kembali ke laut.


Seperti matahari yang tenggelam setiap petang.


Tidak ada kebencian dalam proses itu.


Hanya perubahan.


Dan untuk pertama kalinya, aku mulai memahami bahwa cinta yang dewasa tidak selalu meminta untuk memiliki.


Kadang cinta yang dewasa memilih mengikhlaskan.


---


BAB IX


Menjadi Asing bagi Masa Lalu


«"No man ever steps in the same river twice."


— Heraclitus»


Suatu hari aku menyadari bahwa aku bukan lagi orang yang sama.


Luka telah mengubahku.


Waktu telah mengubahku.


Pengalaman telah mengubahku.


Dan mungkin itu tidak buruk.


Karena kehidupan memang tidak meminta manusia untuk tetap sama.


Ia meminta manusia untuk bertumbuh.


Aku mulai melihat masa lalu seperti seorang sejarawan melihat kerajaan yang telah runtuh.


Dengan rasa hormat.


Namun tanpa keinginan untuk kembali tinggal di sana.


Aku tidak lagi ingin mengulang semuanya.


Aku juga tidak ingin menghapus semuanya.


Karena sekalipun menyakitkan, masa lalu telah membentuk sebagian dari siapa diriku hari ini.


Dan untuk pertama kalinya, aku mampu mengingat tanpa harus terluka.


Aku mampu mengenang tanpa harus kembali tenggelam.


Aku mampu melihat ke belakang tanpa kehilangan arah ke depan.


---


BAB X


Odesei: Pulang kepada Diri Sendiri


«"Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman."


— 2 Timotius 4:7»


Pada akhirnya, perjalanan ini bukan tentang menemukan seseorang.


Perjalanan ini bukan tentang mempertahankan sesuatu.


Perjalanan ini bukan pula tentang memenangkan sebuah hubungan.


Perjalanan ini adalah tentang pulang.


Pulang kepada diri sendiri.


Sebab terlalu lama aku mencari rumah di tempat lain.


Terlalu lama aku menggantungkan kebahagiaan pada sesuatu di luar diriku.


Terlalu lama aku percaya bahwa kelengkapan harus datang dari orang lain.


Padahal rumah yang sesungguhnya selalu ada di dalam diri.


Di dalam keberanian untuk menerima.


Di dalam kebijaksanaan untuk memahami.


Di dalam ketenangan untuk melepaskan.


Hari ini aku tidak tahu bagaimana masa depanku.


Aku tidak tahu siapa yang akan berjalan bersamaku.


Aku tidak tahu cerita seperti apa yang masih menungguku.


Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak lagi takut.


Karena aku telah menemukan sesuatu yang lebih penting daripada kepastian.


Aku menemukan diriku sendiri.


Dan mungkin, itulah tujuan sebenarnya dari setiap odesei.


Bukan menemukan dunia yang baru.


Melainkan menemukan siapa diri kita setelah dunia yang lama berakhir.


---


EPILOG


«"Pada akhirnya, yang hilang bukan cinta. Yang hilang adalah kemungkinan. Namun kemungkinan yang hilang bukan akhir dari kehidupan. Ia hanyalah jalan yang tidak jadi kita tempuh."»


Jika engkau membaca halaman terakhir ini sambil membawa luka yang sama, ketahuilah bahwa engkau tidak sendirian.


Setiap manusia memiliki odeseinya masing-masing.


Setiap manusia pernah kehilangan sesuatu.


Setiap manusia pernah berharap terlalu jauh.


Dan setiap manusia, cepat atau lambat, harus belajar pulang kepada dirinya sendiri.


Mungkin bukan hari ini.


Mungkin bukan besok.


Namun suatu hari nanti.


Ketika engkau menoleh ke belakang, engkau akan menyadari bahwa luka yang dulu hampir menghancurkanmu ternyata juga membentukmu.


Dan saat itulah engkau akan mengerti:


Bahwa perjalanan ini tidak pernah sia-sia.πŸ₯€

Notes: ""Tulisan dalam blog ini merupakan hasil pemikiran penulis, dengan sebagian proses penyuntingan dibantu teknologi AI."

Terimakasih.

Komentar

Postingan Populer